Bloodline

I

Taliyah hampir tidak ingat bagaimana ia merindukan hamparan pasir panas yang menyengat di Shurima. Apalagi penduduknya, hawa panas dan ratusan pedagang yang saling dorong, berteriak, tawar-menawar, serta berbicara sangat cepat dan bersemangat bahkan sampai jika orang asing datang mendengar, mereka akan berpikir sedang ada perkelahian.

Shurima, oh, Shurima. Dalam perjalanan panjangnya, dia tidak pernah menemukan tempat yang penuh energi seperti kampung halamannya. Ionia memang megah, dataran beku Freljord memang menakjubkan, tapi Taliyah tidak sadar betapa ia merindukan panasnya Shurima hingga ia sampai di Bel’zhun.

Koneksi yang ia rasakan dengan dataran tanah yang luas ini meresapinya seolah-olah teh rempah Babajan yang larut. Untuk pertama kalinya sejak pergi, dia merasakan hidupnya sangatlah lepas. Dia sudah lebih banyak tersenyum saat menaiki tangga dari dermaga, dan meskipun dia sedang berjalan di bawah batu hitam Noxtoraa, dia tidak kehilangan semangatnya.

Taliyah menetap untuk waktu yang lama di Bel’zhun, para orang Noxus yang bersamanya di pelabuhan tadi membuatnya terlalu panik akan kejadian yang baru saja dia alami. Dia hanya bertahan untuk membeli beberapa makanan yang bisa dia bawa, serta beberapa kabar yang para pedagang bawa dari padang pasir yang jauh di sana. Beberapa pembicaraan mereka kebanyakan hanya seputar konflik fantasi, di mana mereka banyak melihat gerombolan prajurit pasir, serta gemuruh petir yang datang di langit cerah, serta hingga aliran yang air entah dari mana datangnya. Taliyah sudah sering mendengar cerita ini dalam bentuk puisi serta legenda ini. Tapi dia juga percaya bahwa semua reruntuhan kuno yang ada di Shurima memang terlalu agung untuk dibangun oleh tangan manusia.

Taliyah kemudian meninggalkan Bel’zhun bersama dengan arak-arakan karavan para pedagang Nerimazeth yang mengarah ke Selatan menuju Kenethet. Dia berjalan cukup jauh bersama mereka semua sampai perbatasan utara kota dengan padang Sai, sebelum akhirnya berpisah. Seorang pemimpin dari salah satu karavan dengan mata indah bernama Shamara mengingatkannya untuk tidak berjalan ke arah Selatan sana sendirian, tapi Taliyah menjawab bahwa dia harus segera menolong keluarganya, dan peringatan tersebut hanyalah butiran debu baginya.

Dari Kenethet, dia lanjut berjalan ke selatan, diikuti oleh arah angin yang dibawa oleh Mother of Life, sebuah sungai besar yang menuntunnya menuju pusat kota kerajaan Shurima. Tanpa ada seorangpun di sekelilingnya, dia berjalan lebih cepat dengan cara meluncur di atas batu yang dia gerakkan sendiri, membawanya menuju Vekuara, kota yang dia kenal sudah terkubur setengahnya di bawah tanah, serta kehadiran para mahluk buas Sai.

Shamara memberitahunya bahwa di sana terdapat sebuah suku kecil yang kerap berpindah-pindah, yang biasanya juga dipakai untuk para pengelana beristirahat. Namun yang disebutkan di atas tidak mampu dia temukan. Bahkan melihatnya dari jarak satu mil saja, Taliyah bisa menyadari bahwa Vekuara sudah terlahir kembali.

Jika saja Taliyah tidak menemukan sesosok wanita yang tengah sekarat.

II

Kota tersebut dibanjiri oleh banyak warna dan juga suara. Udara pekat ini menyengat mewarnai pandangannya diiringi oleh suara berisik yang berasal dari suara tawar menawar dengan marah, membahas rempah-rempah dan daging tajam. Taliyah menuju ke arah mereka semua, mengabaikan para pedagang yang ngotot memperjuangkan penawaran mereka demi anak di rumah. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh jubah Taliyah, berusaha menariknya ke arah keramaian para pedagang, namun Taliyah menarik dirinya lagi.

Ratusan orang berjajar di sepanjang jalan menuju pada dinding besar kota. Sebuah udara dari rokok lelaki tua yang sedang duduk di depan pintu menyambutnya. Dia melihat beberapa lambang suku di sana, Barbae, Zagayah, Yesheje, serta banyak lagi yang tidak dia kenal. Dia juga melihat orang-orang yang dulu berkata bahwa musuh akan kembali, seiring dengan Taliyah memutuskan untuk pergi, sekarang malah berjalan bersamanya.

“Banyak sekali yang telah terjadi sejak aku pergi,” Taliyah berbisik pada dirinya sendiri.

Taliyah telah menemukan apa yang dia cari di sini dan harus kembali ke arah reruntuhan bangunan di bagian sisi kota ini. Dia tidak ingin bertahan lama di sini jika memang tidak ada yang perlu dia lakukan, tapi dia sudah berjanji serta ibunya selalu mengajarkannya untuk tidak mengingkari janji. The Great Weaver selalu menyukai orang-orang yang seperti itu.

Tas besar di atas bahunya dipenuhi oleh banyak makanan; daging, gandum, roti, dan juga keju, serta beberapa kantung air. Itu semua memang lebih dari yang dia butuhkan, tapi dia tidak ingin menghabiskannya sendiri. Sinar matahari yang sejak tadi menyoroti dirinya kini perlahan mulai menghilang, tapi dia tahu bahwa dia tidak jauh lagi. Dia memang tidak menyadari apa yang dia tidak tahu, tapi dia yakin setiap langkahnya membawa dia lebih dekat kepada kehangatan ayah dan ibunya. Setelah dia sampai di sana, dia tahu bahwa dia tidak butuh uang, yang dia butuhkan hanyalah untuk bisa berada di sekitar mereka.

Di tengah keramaian, Taliyah tidak sadar ada seorang lelaki besar yang berjalan menabrak dirinya hingga dirinya terjatuh tergeletak di atas tanah.

Rasanya seperti berjalan di tebing curam itu lagi, tapi dia tidak akan terbawa suasana dan menyerah begitu saja. Orang-orang di sini memahami hal ini lebih banyak darinya. Mereka berjalan melewatinya begitu saja seperti batu di tengah jalan. Taliyah mengenakan baju dari atas kepala hingga kakinya, namun tubuhnya memang kecil. Dari sana, dia melihat seseorang lelaki dengan tongkat panjang yang menyangga kakinya yang miring.

“Maafkan aku,” kata Taliyah, sambil melihat ke atas, “Aku tidak melihatmu tadi.”

Lelaki itu melihat ke bawah, mukanya tersembunyi di balik bayangan jubahnya, namun tidak menjawab apapun. Dia menggenggam kedua tangannya, jarinya dibalut oleh perban seperti korban suatu wabah penyakit. Taliyah ragu dan tak tahu apa yang harus dia lakukan, sambil kemudian menarik kembali tangan yang dia sodorkan tadi.

Tapi akhirnya lelaki itu mengangkat tubuh Taliyah, mencoba untuk membangkitkan kembali tubuhnya dengan susah payah. Sesaat Taliyah melihat kilauan emas dari balik jubah lelaki tersebut, sebelum akhirnya dia kembali menutupinya lagi.

“Terima kasih,” kata Taliyah.

“Kau seharusnya berhati-hati, nak,” katanya dengan suara berat serta aksen yang sedikit terdengar asing, seperti yang datang keluar dari kesedihan yang paling dalam. “Shurima sekarang adalah tempat yang berbahaya.”

III

Lelaki tadi melihat Taliyah kembali berlari menuju dinding Vekuara. Dinding yang tingginya hanya sepantar dengan kepalanya, dengan jajaran batu bata yang sudah dimakan usia. Bagi orang-orang Vekuara, hal tersebut sangatlah hebat, tapi di matanya, semuanya hanyalah salinan dari kemelaratan kehidupan.

Dia melangkah melalui pintu gerbang, memandang ke atas beberapa pasang batu yang kasar. Seorang penjual air, sedang berdiri di tengah alat kuningan roda yang memasukkan air berpasir ke dalam botol kaca, menatapnya sambil dia berjalan.

“Air? Baru diambil dari the Mother of-” kata penjual tersebut, tapi kata-kata tersebut hilang setelah melihat sebuah tower besar yang ada di depan mereka semua.

Lelaki itu tahu bahwa dia harus terus bergerak. Kata-kata dari tembok Astrologer’s Tower telah menuntunnya ke sini, dan sang magus juga akan muncul di tempat ini. Dia merasakan kehadiran the Ascended Bloodline di Vekuara, seseorang yang dulunya adalah lambang kejayaan kerajaan ini sebelum hancur berkeping-keping. Untuk menemukan sosok tersebut sebelum musuh datang adalah hal yang sangat penting, karena darah Ancient Shurima sangatlah langka dan juga berpengaruh. Darah tersebutlah yang membawa Azir kembali dari kematian; dan dengan kekuatan ini berada di tangan yang salah, kehancuran dunia ini akan akan muncul dari kebangkitan Shurima untuk yang kedua kalinya ini.

Benar, dia harus tetap bergerak, tapi kenyataannya tidak.

“Kau berdagang di antara sosok hantu di masa lalu,” katanya.

“Hantu?” kata pedagang tersebut, suaranya bergelimang ketakutan.

“Gerbang ini,” katanya, sambil menunjukkan tongkatnya ke arah atap gerbang. Debu terus berjatuhan dari sela-sela benteng yang terbuka dari atas. “Seorang pengrajin yang diasingkan dari Icathia yang membangunnya. Setiap batu ini dipahat dan dipasang dengan presisi yang sangat tepat sehingga tidak ada setetes mortir pun yang dibutuhkan untuk dijadikan lem.”

“Aku...Aku tidak tahu hal semacam ini.”

“Kau makhluk mortal bisa dengan mudah melupakan masa lalu serta legenda yang harusnya kau ingat,” katanya, kepahitan selama berabad-abad yang hilang terkubur dalam tanah ini akhirnya muncul ke permukaan dalam bentuk kemarahan. “Tidakkah kau tau aku membangung the Great Library untuk menjaga kalian semua dari kegagalan untuk mengingat hal?”

“Kumohon, tuan,” kata sang pedagang itu, sambil terus mundur ke arah dinding yang ada di belakangnya. “Kau berbicara tentang mitos legenda kuno.”

“Untukmu, ketika aku pertama kali datang kemari, dinding ini baru saja dibangun, dua ratus kaki menjulang ke atas, dipahat dengan keramik mewah, serta setiap batunya terdiri dari emas. Aku dan adikku masuk ke kota ini dengan sebuah kebanggaan di depan sepuluh ribu tentara dengan tombak tajam di tangan mereka. Kami bersama-sama bergerombol menuju gerbang ini dengan tepuk tangan semua orang yang ada di sini.”

Kemudian dia berkata halus, “Setahun yang lalu, semuanya hilang. Dan itu adalah akhir dari semuanya. Atau mungkin awal. Aku kembali ke dunia yang tidak bisa aku ceritakan.”

Wajah pedagang air itu memucat, menyipitkan mata untuk melihat sosok di balik kegelapan jubah itu. Matanya kemudian terbelalak.

“Kau adalah the Lost Son of the Desert!” kata pedagang itu. “Kau… Nasus.

“Benar,” katanya, sambil berbalik menuju kota, “tapi entah jauh di sana, ada seseorang yang lebih tersesat dariku.”

IV

Nasus mengikuti keramaian bergerak masuk ke dalam kota dengan sebuah kuil di dalamnya, sambil terus mencoba untuk memancing perhatian orang di sekitarnya. Badannya yang besar saja bisa memancing perhatian banyak orang, tapi sang pedagang tadi untungnya mengerti untuk diajak kerjasama. Shurima dari dulu adalah tempat yang dipenuhi banyak rahasia, bahkan masih ada lebih banyak lagi yang terkubur di dalam tanah. Setelah dia berhasil masuk ke pusat kota, dia dikagetkan oleh seluruh orang yang bahkan tidak mengenal namanya. Ya, memang tidak ada waktu untuk berhenti, tapi kebodohan serta ketidaktahuan seperti pada pedagang air tadi alami benar-benar membuatnya kesal.

Sama seperti dinding-dinding gerbang lainnya, interior Vekuara sekarang hanya menyisakan bayangan dari kejayaannya dulu. Ibu Azir telah dilahirkan di sini, dan begitu juga dengan Azir. Di kebun ini seharusnya banyak sekali bunga indah yang dibawa dari seluruh penjuru Shurima dan memancarkan warna yang sangat menawan. Setiap tower di sekitarnya juga seharusnya dipenuhi oleh air dingin yang mengalir dari dalam kuil, mengalir bersama keabadian yang seolah akan terus ada.

Ribuan tahun berlalu telah membuat semuanya hancur menjadi bebatuan serta reruntuhan. Reruntuhan ini dulunya dibangun selama beribu-ribu tahun dengan cara yang sangat tradisional, yang mempercayai bahwa masa depan itu akan tercipta dari kemegahan di masa lalu. Nasus masih berjalan mengikuti arah keramaian. Dia melihat sebuah memori yang sedikit dia ingat.

Bangunan yang dulu dirancang oleh para master arsitek sekarang berantakan entah menjadi seperti apa padanannya. Dinding-din dingnya yang dulu disusun dari batu granit sekarang digantikan oleh batu-batu runcing dan tidak rata satu sama lain. Konsep utama kota ini memang masih ada, tapi Nasus seperti merasa sedang berada dalam sebuah mimpi buruk, di mana semua hal di sekelilingnya sekarang sudah berubah bentuk, di mana semuanya telah dibuat berbeda dari yang pertama kali terancang dengan rapih.

Dia mendengar suara komat-kamit dari orang-orang di sekitarnya, namanya sedang dibisikkan oleh mereka semua. Nasus acuh tak peduli, dia terus maju hingga akhirnya berbelok ke arah sebuah plaza yang terbuka di pusat kota. Tangannya mengepal dengan kuat setelah melihat apa yang orang-orang Vekuara dirikan di sana di tengah kota yang terlahir kembali ini.

Sebuah relik matahari dibangun dan dipahat di atas batu yang kasar. Ditegakkan oleh manusia setinggi yang mereka mampu, layaknya sebuah kapal-kapalan yang dibuat oleh anak kecil yang digantung di tengah kerajaan Shurima. The Grand Temple ini dulunya membuat iri semua wilayah di Valoran dengan keindahan arsitekturnya dan mereka semua bahkan rela untuk berjalan ribuan mil untuk bisa melihatnya. Dan sekarang semuanya menjadi seperti ini?

Dinding-dinding di sana berwarna hitam dan bersinar terang, tapi Nasus bisa melihat bagaimana bekas-bekas perbaikan yang tidak ditata rapih kembali. Figur besar Sun bersinar dari atas kuil, tapi bahkan dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat bagaimana Nasus tahu bahwa itu bukan terbuat dari emas melainkan perunggu atau perak murah. Bahkan benda itu tidak melayang seperti yang dia punya dulu. Tali tambang mengaitnya dari empat sisi dengan pilar yang menyangganya.

Sebagian diri dari Nasus ingin mengamuk kepada semua orang yang ada disini, dan ingin sekali menghancurkan bangunan yang dia benci yang seharusnya menjadi hal yang patut diingat, dilihat, dan diperjuangkan. Dia ingin menyadarkan mereka semua bahwa mereka telah menghancurkan bangunan yang dulu berdiri megah di masa lalu. Tapi sayang, mereka tidak pernah melihat apa yang dia lihat, tidak tahu apa yang dia tahu, dan tidak mengerti apa yang dia mengerti.

Sosok jubah berbulu berdiri di depan Sun Disc, mengangkat kedua tangannya, dan seolah berkata sesuatu namun tak bisa terdengar oleh Nasus.

Apakah dia seseorang yang harus dia cari?

V

Dia melintasi plaza tersebut menuju ke arah kuil dengan maksud tertentu, melewati empat pilar yang dijadikan penyangga tadi. Dua prajurit dengan pakaian perunggu serta helm berbentuk monster berdiri menjaga tangga. Mereka melihat ke arah Nasus yang mendekat. Nasus sesaat merasa senang setelah dia melihat helm tersebut menyerupai apa, atau siapa. Yang satu dalam bentuk buaya, sementara satu lagi berbentuk kepala serigala.

Mereka menurunkan tombak mereka melihat kedatangannya, dan terlihat mereka berdua terkejut ketika Nasus memperlihatkan wujud wajahnya dari balik jubah serta berdiri tegak. Sudah lama dia berkelana menjauh dari Shurima dengan kehidupan abadinya, mencoba untuk menyembunyikan keberadaannya, mengisolasi dirinya dari kehidupan di dunia ini, tapi hari ini adalah hari di mana semua hal itu akan berakhir. Nasus sudah tidak memiliki niat untuk menyembunyikan wajahnya lagi.

Berdiri tinggi menjulang di antara para penjaga tersebut, Nasus berdiri tinggi diantara para prajurit, Nasus adalah sosok Ascended legenda yang ada di tengah-tengah manusia yang hidup di zaman sekarang ini. Tubuhnya terbuat oleh sinar cahaya suci Sun Disc, dan sekarang kembali disembuhkan lagi oleh cahaya yang sama. Dia naik membuka perban yang juga menyelimuti tongkat yang dia pakai berjalan lagi sehingga memunculkan kapak perangnya yang besar. Permukaan kapaknya bergelimang cahaya kristal yang semakin bersinar terkena sinar matahari.

“Biarkan aku masuk,” katanya.

Para penjaga tersebut tak bergerak ketakutan. Nasus memutar kapak besarnya sambil kemudian berlalu. Penjaga yang tadi melihatnya kini sudah mundur sekitar tiga puluh langkah ke belakang. Nasus memulai langkahnya di tangga ini.

Ia menuju ke arah sebuah monumen berbahan baja berkilau di atas sana. Dalam pendakiannya, dia melihat ke arah dinding kota Vekuara. Sebuah lautan pasir yang tak berujung membentang luas dari tiga sisi. Di sisi kota bagian timur, tanah di sana dipenuhi pohon palem gurun dengan jumlah ratusan di atas bukit yang akarnya menancap kuat ratusan kaki di bawah tanah mencari air.

Di sisi lain Shurima yang luas ini, Nasus tidak melihat apapun lagi. Hal ini membuatnya sedih, mengingat bahwa the Mother of Life telah mengalirkan air kehidupan ke seluruh penjuru Shurima. Mungkin Azir akan bisa membawa kehidupan ke Shurima sekali lagi, dan mungkin juga tidak, sehingga membuatnya harus mencari siapakah penerus takhta Shurima nantinya.

Penjaga lainnya terlihat lari naik ke atas kuil sambil berteriak dalam bahasa yang memiliki banyak serapan dari bahasa kuno Shurima, namun sama sekali tidak memiliki keindahan dan kerumitan bahasanya sama sekali.

Nasus mengingat rasa sakit yang pernah dia rasakan pada saat persiapan terakhirnya menuju ritual Ascension di the Great Temple waktu itu. Penyakit yang dia derita waktu itu membuatnya terlalu lemah bahkan untuk memanjat tangga hingga membiarkan dirinya disangga oleh tangan dari adik kandungnya sendiri. Setelah mereka mencapai puncak, nyawanya seolah sudah berada di ujung tanduk. Dia meminta pada Renekton untuk pergi dan meninggalkannya dalam rasa sakit ini sendirian. Tapi Renekton menggelengkan kepalanya dan tak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.

“Aku akan bersamamu sampai akhir.”

Bahkan kali ini, kata-kata itu masih bisa melukainya lebih dalam dari pedang apapun. Ketika masih menjadi mahluk fana, Renekton dulu sangat tidak tertebak; terkadang dia bertindak keras dan kejam, namun juga memiliki jiwa pemberani serta semangat juang yang tinggi. Kekuatan besar Ascension telah membuatnya menjadi mahluk suci, dan pada akhirnya Renekton bertarung dengan musuh di Tomb of Emperors dan rela untuk mengorbankan dirinya ikut terkubur demi menyelamatkan Shurima.

Menyelamatkan Shurima...?

Apakah hal yang mereka lakukan waktu itu telah benar-benar menyelamatkan Shurima? Azir mati, dibunuh oleh teman baiknya sendiri, dan kota ini juga telah ikut musnah karena tragedi ritual Ascension yang menguburnya di dalam pasir. Dia mengingat saat di mana dia mengubur Xerath dan Renekton setiap harinya, meskipun memang tidak ada pilihan lain, rasa bersalah ini selalu menghantuinya tiada akhir.

Sekarang Xerath dan Renekton telah terbebaskan. Azir juga telah berhasil menaklukan kematian dan menjadi salah satu the Ascended, serta ambisinya pada Shurima juga terlahir kembali. Kota ini telah bangkit dari bawah tanah dan membuang debu yang menyelimutinya selama ribuan tahun lamanya. Sekarang dia sudah lebih dari sekedar pembunuh yang membantai tanpa ampun atas nama balas dendam.

“Dan aku telah membiarkannya terjebak di dalam sana,” kata Nasus.

Nasus telah sampai di puncak, dan mencoba untuk menyingkirkan perasaan tentang Renekton yang telah menjadi apa sekarang ini; Sesosok monster yang mengaum dan meneriakkan nama Nasus dari bawah sana.

Sesosok monster yang mungkin harus dia hadapi.

VI.

VI

Nasus telah mencapai bagian atas kuil, sebuah strip kertas nazar berkibar dari lengan dan ikat pinggangnya. Dia menancapkan kapak besarnya di atas sebuah batu dan menatap sekelilingnya.

Cahaya matahari yang terpantul dari Sun Disc membaginya menjadi dua, menyinari serpihan batunya hang kasar tidak dipoles. Tali tambang yang dikepang tak karuan ini terlihat sangat jelas dari dekat, serta semua yang telah dibangun oleh rakyat Vekuara ini benar-benar memperlihatkan kejelekannya. Atapnya dipenuhi oleh ornamen; tapi tidak ada mimbar besar yang diukir dengan kubah langit atau kardinal untuk laju angin, serta tidak ada lukisan pahlawan Ascended yang suci di manapun di dindingnya juga.

Sepuluh prajurit dengan jubah serta pakaian perang perunggu berdiri di antara Nasus dan seorang sosok misterius. Sosok tersebut berbadan tinggi, dengan jubah panjang serta hiasan bulu di sisinya, yang menyerupai sayap serta topi runcing menyerupai paruh burung. Wajah yang tersembunyi di sana terlihat kejam dan tak mengenal ampun.

Persis seperti Azir.

“Kau Nasus?” kata sosok tersebut. Suaranya sangat berat, seperti mengancam, namun Nasus sama sekali tak gentar. Nasus adalah keturunan dewa, tak perlu takut untuk bertemu dewa yang lainnya.
“Pertanyaanmu melambangkan seolah aku telah pergi terlalu lama. Ya, aku Nasus, tapi, yang paling penting, siapa dirimu?”
Sosok tersebut berdiri tegak, membusungkan dadanya seperti burung di musim kawin.
“Aku adalah Azrahir Thelamu, keturunan the Hawk Emperor, Pemimpin Vekuara, sang pembawa berkat, Dia yang berjalan di jalan cahaya dan penjaga api suci. Pembawa masa depan dan-”
“Keturunan the Hawk Emperor?” sanggah Nasus. “Kau mengaku keturunan raja Azir?”
“Aku tidak mengaku-ngaku, aku memang keturunannya,” lawannya lagi, bertarung dengan penuh keyakinan. “Sekarang beritahu apa maumu.”
Nasus mengangguk dan memutar kapaknya, memegangnya dengan kedua tangan, lurus ke arah tanah.
“Aku perlu darahmu,” kata Nasus.

VII

Nasus memukulkan tongkat kapak besarnya ke arah keramik di dekat kakinya, dan awan pasir terbang hingga ke atap. Awan terus melayang menutupi pandangan, berputar membentuk angin yang mengitari sosok manusia yang mengaku keturunan Azir serta pasukan penjaganya.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya pada Nasus.
“Sudah ku bilang, aku perlu melihat darahmu.”
Dalam sekejap mata, angin yang bergerak berputar itu membentuk sebuah badai angin yang besar. Para pasukan penjaga menutupi wajahnya dengan tangan mereka, sementara raja palsu itu batuk serta kelilipan terkena debu-debu pasir. Badai pasir ini berputar kencang seolah mampu memeras sapi besar menjadi tulang-belulang saja dalam beberapa menit. Armor yang mereka kenakan tidak membantu sama sekali, sementara pasir itu menembus mencari kulit mereka. Sun Disc di belakangnya juga ikut goyah karena tembok penyangganya mulai bergerak tak menentu.

Nasus membiarkan kemarahan pasir ini masuk ke dalam dirinya, sementara tubuhnya mulai mengeluarkan kekuatan dari dalam dirinya yang selama ini terkubur. Bentuknya sekarang membesar, menjulang tinggi, memperlihatkan bentuk the Ascended yang sebenarnya.

Dia menyerang tanpa aba-aba apapun, mengamuk membabi buta kepada semua pengabdi kerajaan gadungan yang ada di depannya, menghantamnya dengan kapak besarnya. Dia tidak bermaksud membunuh mereka semua, mereka juga adalah anak Shurima, tapi mereka telah mengganggu jalannya.

Sampai akhirnya tubuh mereka tergeletak semua, Nasus menghampiri sang raja palsu itu. Dia terbaring di atas sebuah batu bulat, dengan tangan berdarah-darah yang menutupi wajahnya. Nasus menunduk dan mencoba untuk mengangkatnya dari kalung di lehernya. Tubuhnya kini diangkat sangat jauh dari atas tanah, dengan Nasus yang sekarang memegang wajahnya.

Wajah dari manusia biasa itu memerah terkena pasir yang memasuki kulitnya, serta mengeluarkan darah dari pipinya. Nasus bergerak lebih dekat ke arah Sun Disc. Bentuk palsunya terlihat, bukan terbuat dari emas, tapi tetap memantulkan cahaya matahari sebagaimana seharusnya.

“Kau bilang kau keturunan Azir?” katanya. “Sekarang kita lihat apakah kau benar atau tidak.”

Nasus menempelkan wajah si raja palsu tersebut kepada Sun Disc, kemudian dia berteriak setelah kulitnya terbakar terkena panasnya baja yang dipanaskan oleh matahari. Nasus akhirnya melepaskannya ke tanah dan melihat darahnya yang menyusut pada Sun Disc tadi. Darah tersebut sudah mengering dengan menyisakan warna coklat serta bau yang menyengat hidungnya.

“Darahmu bukan merupakan keturunan the Ascended,” kata Nasus kecewa. “Kau bukan orang yang aku cari.”

Nasus memalingkan wajahnya ketika dia melihat cahaya biru entah dari mana terpantul dari langit di kejauhan sana.

Nasus menatap ke arahnya. Di sana, tertutup awan debu, terdapat barisan pasukan yang sedang berjalan. Nasus melihat pantulan matahari terpancar dari armor perang yang dilihatnya. Dia juga mendengar suara drum serta seruan perang dari terompet. Monster besar muncul dari balik debu awan tersebut, dengan diikat oleh segerombolan orang menggunakan tali di sekelilingnya. Monster tersebut mengenakan baju besi yang melindungi kulitnya serta tanduk melengkungnya. Dengan tubuhnya yang besar ini, dia bisa dengan mudah menghancurkan dinding rapuh Vekuara.

Di belakang monster tersebut, terdapat segerombol suku yang berjalan membawa bendera perang. Kira-kira sekitar lima ratus pasukan. Petarung garis depan, pemanah berkuda, dan pasukan berbadan besar dengan tameng serta kapak yang berat. Nasus merasakan mereka semua berada di bawah satu dominasi, dan rela menumpahkan darah di antara satu sama lain.

Nasus juga merasakan kekuatan sihir yang besar serta perasaan yang sangat membuatnya kembali ke masa lalu. Setiap inderanya sekarang menjadi lebih tajam. Dia mendengar ratusan suara manusia dari bawah, melihat setiap ketidaksempurnaan pada Sun Disc, serta merasakan setiap butir pasir di bawah kakinya. Dia juga mencium darah, yang baru saja tumpah, yang diusung samar dari masa lalu dunia yang dikira akan hilang. Dari suatu tempat di sebelah timur kota, di tepinya, di mana reruntuhannya menyatu dengan bebukitan.

Sumber dari kekuatan sihir yang besar ini mengapung terbang: energi kegelapan yang terpaut pada rantai sarkofagus kunp. Seorang pengkhianat Shurima serta dalang kehancuran kerajaan kuno ini semua.

“Xerath,” kata Nasus.

VIII

Di dalam rumah yang hampir roboh di pinggir kota Vekuara, Taliyah bersiap untuk mengemas kembali perjalanannya dan bersiap lagi untuk melanjutkan perjalanannya, seperti yang biasa dia lakukan. Air dan susu dalam kantung kulit telah terisi penuh, bersama dengan kantung daging serta roti yang cukup untuk beberapa minggu ditambah tas yang berisi batu kecil yang dia peroleh dari seluruh Valoran.

Taliyah berlutut di sebelah wanita yang tengah sekarat di dekatnya. Dia meringis kesakitan melihat luka yang dia tutupi. Sepertinya itu adalah luka pedang, tapi Taliyah tidak yakin. Taliyah memberikan perban untuk menutupi lukanya sebisa mungkin. Di samping luka yang dia derita, tubuh wanita itu sendiri dipenuhi oleh luka-luka. Luka perkelahian. Sepertinya dia memang sering berhadapan langsung dengan musuhnya. Taliyah mengganti perbannya sementara wanita itu mengerang kesakitan sambil tertidur mencoba untuk beristirahat, menunggu pertolongan dari the Great Weaver.

“Kau kuat sekali,” kata Taliyah, “Aku tahu itu, kau bertarung untuk bertahan hidup.”

Taliyah tidak tahu apakah dia mendengarnya atau tidak, tapi mungkin kata-katanya bisa membantu wanita itu untuk tetap bertahan hidup dan kembali sehat. Selain itu, bagi Taliyah, dia senang untuk berbicara dengan seseorang; meskipun wanita itu juga tidak membalasnya balik kecuali mereka hanya mengeluh soal Shurima yang terlahir kembali.

Sejak dia berpisah dengan Yasuo di Ionia, Taliyah telah berusaha untuk berjuang sendirian, terus berpindah tempat dan tidak menetap terlalu lama serta mengenal orang jika memang dirasa tidak perlu. Sementara itu, dia sudah tinggal di Vekuara lebih lama dari yang dia rencanakan. Seharusnya dia hanya membeli makanan saja, tapi wanita ini tidak bisa ditinggalkan dalam keadaan tak sadar diri. Keinginan untuk menemukan keluarganya adalah hal yang tak tertahankan, namun dia tahu bahwa the Great Weaver mengajarkan orang untuk selalu membantu satu sama lain susah maupun senang. Taliyah bertahan di sini sebagai janji untuk merawat wanita ini, meskipun setiap detiknya terbuang untuk bertemu saat bertemu keluarganya.

Taliyah menepikan rambut hitam wanita tersebut dari alis yang menghalangi wajahnya, mencoba untuk menggambarkan bagaimana pengorbanan yang telah dia lewati dengan penuh luka di daerah pesisir padang Sai ini. Wajahnya cantik, tapi memang tidak terlalu terlihat ketika dia tak sadarkan diri. Kulitnya berwarna khas penduduk Shurima, dengan matanya, sejauh yang Taliyah ingat, berwarna biru terang.

Taliyah menghela nafas dan berkata, “Yaa, sepertinya tidak ada banyak hal yang bisa aku lakukan sampai kau bangun nanti.”

Di saat yang bersamaan, Taliyah mendengar suara dentuman keras dari arah barat. Dia bergerak ke arah jendela setelah dia memastikan bahwa suara tersebut adalah suara batu yang menggelinding. Pertama-tama, dia pikir ini adalah suara gempa bumi, atau longsor, seperti yang sering dia lihat selama ini. Melihat bangunan-bangunan yang adai Vekuara, tak mengejutkan jika memang hal itu terjadi. Taliyah berharap tidak ada yang terluka.

“Apa yang terjadi...? Di mana aku?”
Taliyah berbalik dan menemukan wanita tadir telah terbangun. Dia duduk, dan melihat ke sekitar mencari sesuatu.
“Kau ada di Vekuara,” kata Taliyah. “Aku menemukanmu di luar sana, berdarah-darah dan tidak sadarkan diri.”
“Di mana bumerangku?” kata wanita itu memaksa.
Taliyah menunjuk ke arah dinding di belakangnya, di mana senjatanya terlihat antik dan dibalut oleh sarung kulit untuk membungkusnya.
“Di sana,” kata Taliyah, “Benda itu sangat tajam dan aku tidak mau menyimpannya di sembarang tempat dan membuat seseorang terluka.”
“Siapa kau?” kata wanita itu, suaranya memunculkan kecurigaan.
“Aku Taliyah.”
“Apakah aku mengenalmu? Apakah sukumu menginginkanku mati?”
Taliyah mengerutkan dahinya. “Tidak. Aku rasa tidak. Kami para pengembara. Suku penenun dan juga pengembara. Kami sepertinya tidak punya musuh.”
“Ya, mungkin tidak dengan sukumu,” kata wanita tersebut. Dia menarik nafas dalam-dalam, dan Taliyah hanya bisa membayangkan bagaimana luka yang dideritanya. Wanita itu duduk dengan bersusah payah sambil menahan rasa sakit.
“Mengapa mereka menginginkanmu mati?” tanya Taliyah.
“Karena aku telah membunuh banyak orang,” jawab Sivir, sambil kesulitan untuk duduk. “Terkadang, itu juga karena aku dibayar. Tapi akhir-akhir ini, biasanya mereka marah karena aku tidak mau menyerah dan pulang.”
“Pulang ke mana?”
Wanita itu memindahkan pandangan mata birunya ke arah Taliyah, dan dia melihat rasa sakit yang sangat mendalam dari sana.
“Ke kota,” jawabnya. “Kota yang bangkit lagi dari bawah tanah.”
“Jadi apakah itu benar?” tanya Taliyah. “Apakah kerajaan Shurima kuno ini benar-benar terlahir kembali? Kau pernah melihatnya?”
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,” jawabnya. “Banyak sekali orang yang menuju ke sana. Aku melihat banyak suku dari Timur dan juga Selatan, tapi aku rasa yang lainnya juga akan ikut menyusul. Lebih banyak orang bodoh lagi.”
“Apakah semua orang akan pergi ke sana?”
“Ya, setiap harinya.”
“Jadi mengapa kau tidak mau kembali ke sana?”
“Kau membuatku muak dengan semua pertanyaanmu.”
Taliyah mengangkat bahunya. “Bertanya adalah langkah utama untuk memahami sesuatu”
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. “Benar juga, tapi berhati-hatilah dengan siapa yang kau tanyai. Beberapa orang menjawab pertanyaan dengan serangan senjatanya.”
“Kau juga?”
“Terkadang, tapi karena kau telah menyelamatkan hidupku, aku tak akan melakukannya.”
“Beritahu aku satu hal lagi.”
“Apa itu?”
“Namamu”
“Sivir,” kata wanita itu sambil tetap mengerang kesakitan.

Taliyah tahu nama itu; memang beberapa orang mungkin tak akan mengenal nama itu, dan dia beruntung mengenalnya atas keahlian menggunakan bumerangnya yang terkenal. Sebelum dia menjawab lagi, suara gemuruh lainnya terdengar. Dia jarang sekali mendengar hal semacam itu di kampung halamannya, tapi di Ionia cukup sering terjadi, di tengah-tengah bukit Noxus dan juga bukit es Freljord.

Taliyah melihat ke arah tasnya, bersiap meninggalkan Vekuara. Sivir mendengar suara itu juga, dan berusaha untuk berdiri mengikuti niatan Taliyah. Usahanya begitu keras sehingga membuatnya mengerang keras, mencucurkan keringat di seluruh tubuhnya.

“Kau tidak bisa pergi ke mana-mana,” kata Taliyah.
“Apakah kau mendengar suara itu?” tanya Sivir.
“Tentu saja,” jawab Taliyah. “Suara itu seperti orang-orang yang berteriak.”
Sivir mengangguk. “Tepat sekali.”

IX

Api berjatuhan dari atas langit.

Komet berwarna putih dengan api biru berasal dari tangan Xerath yang direntangkan, seperti sebuah mesin perang. Yang pertama mendarat ke daratan ini jatuh ke arah pasar kota, meledak seperti bintang jatuh, diikuti oleh ledakan berikutnya. Banyak sekali mayat yang terbakar terlempar ke udara karena hempasannya. Angin besar pun berhembus mewakilkan tawa Xerath, sebuah kegilaan yang tiada tara dengan rasa sakit semua orang sebagai bahan bakarnya.

Bagaimana aku tidak melihat sosok iblis dalam dirinya dulu?

Nasus mendengar teriakan datang dari arah kota, dan rasa bencinya tadi kepada semua orang yang ada di sini sekarang telah hilang seperti rasa haus yang dibilas air dari oasis. Benar saja, sekarang dinding kota telah dihantam oleh monster yang dilihatnya tadi, menerobos kawanan manusia dengan dorongan keras. Pasukan penjaga dengan armor di badannya juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka merupakan prajurit perang dari masa yang berbeda.

Nasus mengayunkan kapaknya dan menuruni tangga kuil, menuju ke arah kota. Ratusan orang dipanggang habis-habisan di bagian barat kota, dengan ketakutan yang berdetak dari nadi mereka semua. Pertarungan mereka beradu ke dalam dua pihak; bertahan hidup melawan pasukan haus darah. Kepanikan seluruh kota membuat orang-orang yang tak mampu melawan masuk ke dalam ruangan berharap jendela dan pintu mereka mampu menyelamatkan hidup mereka. Nasus telah berjalan melewati jalan yang dipenuhi oleh darah , cukup untuk membuatnya menyadari sebrutal apa musuh yang dihadapinya. Xerath akan menghabisi semua orang, wanita, dan anak kecil sekalipun di Vekaura.

Bola api kembali datang diikuti oleh petir dan bau hangus yang berasal dari teriakan orang yang tubuhnya terbakar. Batu yang dihantam pun mampu terbelah menjadi berkeping-keping, menunjukkan kekuatan sihir yang menimpanya. Pasar ini kini dipenuhi oleh asap hitam kebakaran. Area pasar terbakar dan pilar asap hitam mengotori langit.

Nasus mendorong semua orang-orang ketakutan yang menghalangi jalannya, mengikuti jejak darah yang tercecer. Sosok yang mengaku Azir tadi telah ditangkapnya, darahnya sama sekali tidak menandakan kelayakan untuk memimpin, tapi apa yang sekarang dia rasakan ini...? Mereka sangat kuat. Dia bisa mendengar suara detak jantung berdetak seperti petir dari Monster tersebut. Sosok ini datang dari garis keturunan raja dan pejuang kerajaan; lelaki dan wanita dengan ambisi serta kekuatan. Ini adalah darah seorang pahlawan.

Orang-orang ini meneriakkan namanya, mengemis akan bantuan. Dia mengabaikan mereka semua, menyadari bahwa dia memiliki tugas lain. Matahari ini telah menunjukkan padanya untuk melindungi Shurima dari kematian, untuk bertarung demi orang-orangnya serta melawan semua musuh. Tujuannya sekarang hanya itu, tapi meninggalkan Vekaura dalam kehancuran serta pembantaian ini akan meninggalkan rasa bersalah yang besar dalam dirinya.

Berapa banyak orang lagi orang yang akan aku tinggalkan mati?

Dia mengabaikan semua pikiran itu, melanjutkan jalannya kembali menuju padang pasir. Sebagian besar bangunan ini sudah diselimuti oleh pasir, tidak berbeda jauh dengan fondasi bangunan yang sudah rusak. Pemulung padang pasir melarikan diri melewatinya, hatinya mulai berdetak cepat.

Sebenarnya dia datang ke sini untuk mencari bangunan yang bisa digunakan sebagai pemandian, dindingnya terlihat lebih tebal daripada yang lainnya. Dia menunduk ketika masuk,mencium keringat serta darah dua orang yang ada di dalamnya. Yang satu masih sangat muda, sementara yang satunya seolah membuatnya merasa seperti bertatap muka dengan teman lama yang datang dari masa yang sama dengannya.

Wanita kecil itu mundur dari pintu masuk, mengenakan sebuah mantel yang berasal dari seberang lautan timur sana. Wanita itu adalah wanita yang bertemu dengannya di luar dinding kota ini tadi. Nasus merasakan ketakutan, sementara wanita itu juga menggerakkan tangannya membentuk sebuah gerakan yang sepertinya adalah gerakan sihir. Tanah di sekitar mereka bergetar, bebatuan melayang di kaki wanita kecil itu. Di belakangnya, Nasus melihat sosok wanita yang terlihat kesulitan untuk berdiri, bersandarkan dinding untuk membantunya. Bajunya diselimuti oleh warna merah darah. Luka yang parah, tapi tidak cukup untuk membuatnya mati

“Aku Nasus, Curator of the Sands,” katanya, tapi dari pandangan yang diperlihatkan oleh wanita kecil itu, sepertinya dia sudah mengira siapa dirinya. Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu, tapi dia tidak bergerak.
“Menyingkir, gadis kecil,” kata Nasus.
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu melukainya. Aku sudah berjanji padanya.”
Nasus mengayunkan kapaknya, diputar seiring dengan langkahnya ke depan. Wanita kecil itu terdorong ke belakang, di bawah kakinya tanah bergerak melayang seperti serpihan plester yang dikupas dari dinding. Pergerakan ini diikuti oleh dinding yang ada di atap juga, semuanya berguncang. Terakhir kali Nasus berhadapan dengan yang seperti itu adalah dulu ketika dia masih menjadi mahluk biasa, dan itu pun dia nyaris mati karenanya. Wanita satunya yang tengah terluka terlihat terkejut melihat sosok anak kecil yang ingin melindunginya ini. Jelas sekali mereka belum kenal baik satu sama lain.

“Kau memiliki kekuatan untuk menghancurkan batu Shurima,” kata Nasus.
Lawan bicaranya hanya mengerutkan alisnya. “Oleh karena itu, mundurlah, sebelum aku menghancurkanmu.”
Nasus tersenyum mendengar keberaniannya. “Kau memiliki hati seorang pejuang, nak, tapi kau bukanlah orang yang aku cari. Kekuatan sihirmu memang kuat, jadi jika aku menjadi dirimu, aku akan meninggalkan kota ini sebelum Xerath membakarmu hidup-hidup..”
Kulitnya memerah. “Aku tidak akan pergi ke manapun. Aku berjanji akan melindungi Sivir, dan the Great Weaver membenci orang yang melanggar janjinya sediri.”
“Jika kau adalah pelindungnya, ketahuilah bahwa aku tidak akan melukai dirinya.”
“Jadi apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin menyelamatkan dirinya.”

Wanita dengan perban di seluruh tubuhnya ini bangkit dan berdiri di sebelah wanita kecil tadi. Dengan dia diselimuti oleh rasa sakit yang sangat besar, Nasus kagum akan kekuatannya menahan rasa sakit itu sendiri. Tapi dia tidak akan bisa mengharapkan apapun dari seseorang yang dipenuhi darah di seluruh badannya untuk membantu dirinya.

“Siapa Xerath?” tanyanya.
“Penyihir gelap yang tahu banyak hal tentang keberadaanmu di sini.”

Wanita itu mengangguk dan menengok ke arah Taliyah, menempatkan lengannya di atas pundaknya.

“Aku berhutang nyawa padamu, tapi aku tidak diperintah oleh siapapun,” katanya, “Anggap saja janjimu telah terpenuhi. Aku bisa mengurus semuanya sendiri.”

Mimik wajah gadis kecil itu datar, tapi dia tetap ragu. Matanya masih menatap sosok yang sedang bersandar di dinding.

“Apakah kau yakin?” tanyanya lagi.
“Ya, sekarang keluarlah,” kata Sivir. “Temui keluargamu.”

Taliyah mengangguk dan lari ke arah tasnya, membereskan semuanya dan menempelkannya di atas punggungnya. Dia menuju ke arah jendela di bagian timur ruangan dan menengok untuk yang terakhir kalinya ke arah Sivir dan Nasus.

“Semoga Great Weaver selalu bersamamu,” akhirnya, sebelum menghilang melompat ke luar jendela.

Sivir berbalik ke arah Nasus dan mengayunkan tangannya untuk memperlihatkan bumerang emas dengan permata di tengahnya. Sivir menggenggamnya tanda bersiap. Senjata yang tidak terbuat dari baja biasa ini seharusnya memang bisa diangkat dengan mudah.

“Aku sudah muak untuk harus ditolong oleh orang lain lagi,” katanya. “Mereka selalu meminta balas budi. Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan?”
“Membuatmu terus hidup,” kata Nasus.
“Aku bisa melakukannya tanpa dirimu.”
“Lukamu tidak berkata demikian. Kau-”
“Ini?” kata Sivir sebelum Nasus mampu melanjutkan. “Ini hanya sedikit perbedaan pendapat dengan para pengecut yang tidak mau berbicara. Percayalah, aku sudah pernah merasa lebih parah dan tetap bisa berjalan. Aku juga tidak butuh perlindungan. Nasib ini sepertinya tetap memilihku untuk terus ada di dunia ini.”

Nasus menggelengkan kepalanya, tak paham dengan apa yang mahluk fana ini katakan.

“Masa depan tidak terukir di atas batu,” katanya. “Masa depan layaknya sungai yang sewaktu-waktu bisa berbelok-belok. Bahkan mereka dengan masa depan yang telah tertulis di bintang masih tetap bisa terjatuh ke tanah jika mereka tidak berhati-hati.”

Dia menatap senjata Sivir dan berkata, “Apakah kau tahu milik siapa sebenarnya senjata itu?”
“Aku tak peduli?” kata Sivir. “Sekarang benda ini adalah milikku.”
“Namanya Chalicar, dimiliki oleh Setaka, seorang ratu pejuang the Ascended; andai saja masih ada yang mengerti apa arti nama itu sekarang. Suatu kehormatan untuk bisa mengabdi di bawah pimpinan Setaka selama tiga abad lamanya. Semua yang telah dia lakukan benar-benar legendaris.”
“Yang sudah mati biarkan mati,” kata Sivir sambil mengangkat bahunya.
Nasus tak mempedulikan sikap Sivir yang dingin tentang dongeng masa lalunya, “Suatu cerita dari gurun pernah memberitahunya bahwa suatu saat raja Shurima akan memimpin seluruh dunia. Hal tersebut seolah membuatnya berpikir bahwa dia tak terkalahkan, sampai akhirnya dia mati terbunuh oleh Monster di Icathia. Aku memeluknya pada saat-saat terakhir hidupnya, dan meletakkan jasadnya di dalam tanah, serta membaringkan senjata itu di dadanya.”
“Jika kau di sini untuk mengambilnya kembali, maka di antara kita akan ada sedikit masalah yang harus diselesaikan.”
Nasus berlutut dengan satu kaki dan meletakkan tangan kanannya di atas dadanya.
“Kau adalah sang Ascended Bloodline, keturunan sang raja Shurima. Senjata itu adalah milikmu juga, demi darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Tujuannya yaitu untuk membuat Shurima bangkit dan kali ini harus berarti sesuatu.”
“Tidak, tentu saja,” potong Sivir. “Aku tidak pernah meminta Azir untuk menghidupkanku kembali. Aku tidak berhutang apapun padanya. Dan aku juga tidak ingin melakukan hal apapun padamu serta Xerath.”
“Keinginanmu sungguh bertentangan,” kata Nasus. “Xerath akan membunuhmu entah kau melawannya atau tidak. Dia datang ke sini untuk mengakhiri garis keturunan Azir untuk selamanya. Kau bisa menyerahkan nyawamu atau kau bisa melawannya hari ini.”
Sivir mengangkat bajunya dan memperlihatkan luka darah yang kembali membanjiri perbannya. “Aku tidak pernah melakukan hal pengecut dalam seluruh dari selama hidupku, tapi aku juga harus beristirahat.”
“Kau harus hidup,” kata Nasus, kembali bangkit dari tanah. “Dan kau harus bersiap.”
“Untuk apa?” tanya Sivir.
“Untuk pertarungan jiwa Shurima,” kata Nasus. “Jadi untuk saat ini kita harus lari. Prajurit Xerath akan membunuh semua orang di Vekaura.”
“Memangnya ada apa dengan tempat ini?” kata Sivir.
“Mereka mencarimu.”
Sivir terhenyak dan berkata, “Aku pernah mendengar cerita tentangmu sejak aku masih kecil. Semua cerita itu mengisahkan kau dan adikmu adalah pelindung Shurima, benarkah?”
“Ya, itu benar,” kata Nasus. “Aku dan Renekton bertarung untuk Shurima selama berabad-abad.”

Sivir mengambil langkah mendekat ke arah Nasus, wajahnya persis seperti Azir yang mendatangi para pendeta Shurima untuk mempersiapkan ritual Sun Disc untuk Ascension.

“Ayo kita bertarung untuk Shurima sekali lagi,” kata Sivir, dengan suara tegasnya layak sang raja Shurima. “Orang-orang banyak kehilangan nyawanya sementara kita berbicara di sini. Jika kau adalah pahlawan yang aku cari selama ini, maka ini adalah tugasmu untuk keluar sekarang dan selamatkan sebanyak-banyaknya orang yang bisa kau selamatkan.”

Ini memang bukan pencarian yang selama ini Nasus bayangkan, tapi perkataan Sivir tadi telah menghidupkan semangat pertarungan yang telah lama hilang dari dadanya sejak lama. Dia merasa seperti api telah menjalar ke seluruh tubuhnya, menyambut hari ini sekian lamanya, hari di mana Shurima akan kembali bangkit.

“Aku berjanji padamu,” kata Nasus, meraih sebuah kalung yang tergantung di lehernya. “Aku akan melindungi mereka semua dengan nyawaku.”

Batu mata kalung itu bermaterikan giok, berwarna hijau laut dengan emas yang mewadahi sekelilingnya. Cahaya yang cukup terang terlihat dari dalamnya, melambangkan detak jantung yang perlahan berdegup.

Dia menawarkannya pada Sivir sambil bertanya, “Pakai ini dan kau akan terhindar dari penglihatan Xerath. Memang tidak akan bertahan selamanya, tapi cukup lama.”
“Cukup lama untuk apa?” tanya Sivir.
“Untuk aku menemukanmu lagi,” jawab Nasus, membalikkan badannya.

X

Nasus meninggalkan Sivir sebelum dia mengubah pikirannya, menyadari bahwa cara untuk membuat Sivir bertahan hidup adalah dengan membuat seluruh pasukan Azir menyerang ke arah dirinya. Api besar membara di tengah kota, dan Nasus mengikuti arah asal suara teriakan ini.

Amarahnya semakin meningkat setiap dia melihat orang yang terluka bahkan hingga terpotong-potong oleh pasukan Xerath. Banyak korban nyawa yang menjadi saksi konflik hebatnya bersama Xerath. Nasus menggoyangkan lengannya untuk mengasah otot-ototnya. Terakhir kali dia berhadapan dengan Xerath adalah saat terakhir juga dia melihat adiknya yang terjebak di dalam kegelapan.

Kita tidak akan sanggup mengalahkannya meski bersama-sama. Lalu bagaimana aku mengalahkannya sendirian?

Nasus melihat sekelompok orang yang menghalangi pintu keluar dari plaza. Pada awalnya mereka membelakangi Nasus, sebelum akhirnya berbalik setelah mendengar suaranya mengeluarkan kapak dari balik jubahnya. Nasus seharusnya bisa merasakan bagaimana ketakutan mereka melawan salah satu the Ascended, tapi sihir biru yang menyelimuti mereka membuat mereka menatap seolah tanpa rasa takut.

Mereka menyerang ke arah Nasus dengan pedang serta tombak yang telah dilumuri darah. Nasus juga melakukan hal serupa, mengayunkan kapaknya ke bawah memotong tiga di antara mereka dengan satu kali satetan. Kemudian satu tinju dilayangkan ke arah satu pasukan lainnya diteruskan dengan satu tinju ke arah dada pasukan yang tesisa. Nasus meludah ke arah tubuh mereka.

Nasus memasuki plaza, melihat ada beberapa orang yang berlutut ke arah kuil dan Sun Disc, menunduk dan mengharapkan sebuah doa. Sekelompok pasukan juga terlihat di puncak kuil sedang menghabisi semua yang ada di atas sana.

Tubuh sang raja yang mengaku keturunan Azir terlihat terbakar dan di gantung di udara dengan kobaran api yang memenuhi seluruh tubuhnya. Terdapat sesosok yang berteriak di depannya.

“Kalian para manusia sangatlah bodoh,” kata Xerath sembari mencabut daging dari tulang pada raja palsu ini. “Mengapa kalian mau mengaku keturunan raja sampah seperti Azir”

“XERATH!” nasus berteriak dari bawah, suaranya menggema ke seluruh plaza.

Pasukan Xerath berbalik, tapi mereka tidak bergerak. Dentuman kesunyian mewarnai seluruh plaza. Nasus merasakan rasa benci dari Xerath membasuh udara di sekitarnya. Api yang membuat sang raja palsu itu mati terbakar juga bertebaran di sekitar Xerath. Nasus melajutkan langkahnya dengan kapak besarnya dengan ratusan pasang mata yang menatap ke arahnya.

“Akhirnya kau muncul,” kata Xerath, suaranya begitu lembut seperti manusia biasa. “Siapa lagi pengecut selain dirimu yang menjebakku terkurung di bawah tanah selama ribuan tahun?”
“Aku akan mengembalikanmu ke dalam sana,” janji Nasus.
Tubuh Xerath bersinar lebih terang. “Dulu kau punya adikmu yang sangat kau cintai untuk menolongmu. Tapi sekarang, beritahu aku, apakah kau pernah melihat Renekton setelah kami berdua terbebas dari sana?”
“Jangan pernah kau berani menyebut namanya,” ancam Nasus.
“Apakah kau pernah melihatnya menjadi seperti apa sekarang ini?”
Nasus diam tanpa kata, dan Xerath hanya tertawa.
“Tentu saja kau belum pernah melihatnya lagi,” lanjut Xerath, api yang berkobar di sekitarnya membesar seiring dengan tawanya. “Dia akan membunuhmu jika dia melihatmu.”
Xerath turun menuruni tangga kuil, setiap kobaran api mengikuti langkahnya seperti kembang api. Para prajurit di sekitarnya juga hanya terdiam menonton seperti patung. Pertarungan ini bukan untuk mereka yang mortal.
“Kekuatan yang ada pada dirimu adalah kepunyaan Azir,” kata Nasus, sambil melangkah naik ke arah Xerath. “Kau bukan yang terpilih oleh matahari.”
“Renekton juga bukan, tapi lihat bagaimana dia sekarang.”
“Jangan kau berani menyebut namanya lagi,” kata Nasus memunculkan taringnya.
“Adikmu sangatlah lemah, dan kau tahu itu, kan?” terus Xerath, sambil terus mendekat. “Dia bisa ku pengaruhi dengan mudah dari yang aku perkirakan sebelumnya. Aku hanya menghasutnya bahwa kau tega meninggalkan dirinya dalam kegelapan. Dan bagaimana kakak kandungnya mau meninggalkan adiknya sendiri terjebak bersama musuh hingga akhirnya mati.”

Nasus menyadari bahwa Xerath ini sedang mencoba untuk memanas-manasinya, tapi api kebencian ini memang telah membutakannya atas kekuatan besar yang terdapat dalam tubuh Xerath. Mereka kini berhadapan satu lawan satu di tengah kota, dua makhluk Ascended yang tak lekang oleh waktu; ksatria kerajaan melawan ahli sihir kegelapan.

XI

Nasus memulai serangan, badannya yang berdiri kokoh tadi berubah bergerak cepat dalam sekejap mata. Kakinya menapaki udara, kapak besarnya mengayun ke depan. Sasarannya adalah dada Xerath. Rantai yang menyelimuti tubuhnya menghasilkan ledakan.

Xerath terpental mundur ke arah tembok kuil di belakangnya. Sebuah patung hancur menjadi dua bagian. Reruntuhan batu berjatuhan dari atas. Tapi Xerath segera bangkit dan maju ke depan, menyiapkan sebuah mantra sihir dari dalam dadanya. Nasus mengerang kesakitan setelah tubuhnya terbakar terkena api, sampai akhirnya Nasus membalas dengan kapaknya.

Sebuah gelombang energi besar meledak ke udara, memutar membentuk badai. Bangunan di sekitar yang memang sudah rapuh juga ikut hancur terbenam ke atas pasir. Orang-orang Vekaura lari ketakutan, mencoba untuk mencari tempat yang bisa menyelamatkan diri mereka dari pertarungan para dewa di tengah-tengah mereka. Mengalihkan kekuatannya pada musuh yang ada di depannya, kini belenggu sihir Xerath pada pasukannya telah hilang. Mereka pun tak berpikir lama untuk pergi berlindung. Kobaran api meledak dari badan Xerath menimbulkan ledakan yang sangat besar.

Nasus menghindar mencoba untuk tidak terkena oleh komet yang dibuat oleh Xerath ini. Api ini terasa dingin, tapi efeknya pembakarannya sama. Nasus bangkit sekali lagi sambil memutar kapaknya untuk menghindari beberapa serangan ke arahnya. Xerath berdiri melayang di atasnya, tertawa sambil melemparkan energi sihir. Menghempaskan putaran kapaknya ke arah Xerath untuk membalikkan kembali serangannya. Xerath menerima serangan tersebut dan semakin marah mengerahkan seluruh kekuatan api yang tak berhenti dari dalam dirinya.

Nasus menerjang ke arah Xerath. Pertarungan udara mereka menyebabkan bangunan di sekitar kuil kembali hancur. Reruntuhan batu beterbangan dari puncak kuil menimpa apapun yang ada di bawahnya. Bangunan-bangunan lain, kuil-kuil kecil, serta prajurit yang belum sempat pergi menjauh. Sun Disc imitasi yang tadinya melayang disangga oleh empat tiang sekarang mulai rubuh menimpa atap kuil seperti koin besar yang menggelinding, menghantam tanah dan memecah kepingan baja ke segala arah. Salah satu pecahannya menancap di paha Nasus dan membanjiri lantai dengan darahnya.

Xerath keluar dari reruntuhan dan mengeluarkan sebuah panah sihir yang menancap di dada Nasus. Nasus merasakan kesakitan sambil terhempas ke belakang. Xerath memanfaatkan kesempatan ini untuk menggunakan kekuatan sihirnya yang lain dan saatnya untuk mengincar jantung Nasus. Rasa sakit ini tidak pernah dia rasakan selama ribuan tahun, seolah menghisap tenaganya dan dia hanya bisa berlutut. Dengan keadaan seperti ini, Nasus bisa saja menghadapi prajurit biasa dengan satu tangannya, tapi Nasus bukanlah musuh yang sembarangan. Dia adalah seorang makhluk Ascended sama sepertinya, yang mencuri kekuatan matahari serta sihir kegelapan.

Xerath mengangkat kepalanya dan melihat seluruh kota di sekitarnya terbakar. “Sosok yang kau cari tidak ada di sini, dan kau tidak akan pernah bisa melihatnya.”
“Pewaris darah keturunan Azir terakhir tidak akan bisa bersembunyi dariku selamanya,” kata Xerath. “Aku akan menemukannya dan menghabisinya tanpa berpikir.”
Nasus melepaskan kapaknya, sebuah permata indah yang tertanam di pusatnya terjatuh ke tanah.
“Hal itu takkan terjadi selama aku masih hidup.”
“Baiklah,” kata Xerath, tangannya terlentang mengisi energi sihir dalam sebuah cahaya. Nasus telah melakukan apa yang dia bisa, tapi memang dia tak bisa menghentikan semua ini sendirian.

Xerath perlahan mendekat ke arahnya, dan berkata “Aku terus memberitahu adikmu terus-menerus tentang pengkhianatanmu serta rasa cemburu yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya. Dia mengutuk namamu dan berjanji padaku bahwa dia akan menghabisimu setetes demi setetes darah.”

Nasus mengaum dan berusaha berdiri dengan kakinya. Sebuah kawah api dikeluarkannya di bawah tubuh Xerath yang melayang, kekuatan matahari ini membantu perjuangan Nasus.

Tapi itu saja tidaklah cukup. Tidak akan pernah cukup. Terakhir kali Nasus dan Renekton bertarung adalah ketika mereka berdua sedang berada dalam puncak kekuatan mereka. Tapi kali ini, kekuatan Nasus bahkan sudah hampir hilang, sementara kekuatan Xerath terus bertambah kuat setiap harinya.

Sosok magus di depannya ini hanya tertawa ringan menerima serangan Nasus, dan Nasus juga tidak punya kekuatan lagi. Kekuatan sihir Xerath mengangkat Nasus ke udara menuju reruntuhan kuil. Dilemparnya Nasus ke arah kepingan batu yang berserakan di sekitarnya. Di titik ini, dia merasakan tulangnya lemas selemas kayu.

Nasus berusaha bangkit membersihkan semua debu yang menyelimutinya, kakinya hancur dan mati rasa. Tangan kirinya juga sudah tidak bisa digerakkan lagi, rasa sakit ini bermuara dari pundaknya. Yang dia punya sekarang hanya tangan kanannya, tapi ternyata tulang belakangnya juga merasakan rasa sakit yang juga tak tertahankan. Tubuhnya memang bisa pulih seiring dengan waktu. Tapi dia tidak punya banyak waktu.

“Seberapa jauh kau terjatuh, Nasus,” kata Xerath sambil bergerak ke arahnya dengan gumpalan api di jarinya seperti lilin. “Aku mau mengasihanimu jika aku tidak membencimu atas apa yang kau lakukan padaku. Jiwamu sudah lama hilang sejak ribuan tahun berjalan sendirian terbebani oleh rasa bersalah.”
“Lebih baik aku terbebani oleh rasa bersalah daripada berkhianat,” kata Nasus berteriak batuk mengeluarkan darah. “Bahkan dengan semua kekuatanmu ini, kau tetaplah seorang budak.”

Nasus merasakan kemarahan Xerath dan senang melihatnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.

“Aku bukan budak,” kata Xerath. “Azir telah membebaskanku di saat-saat terakhir.”
Nasus terdiam. Xerath bebas? Tidak mungkin...
“Lalu apa-apaan semua ini? Mengapa mengkhianati Azir?”
“Azir terlalu bodoh dan pemberian ini sudah sangat terlambat,” kata Xerath.

Nasus masih meringis kesakitan. Dia memutar bahunya mencoba membenarkan posisi tulangnya. Perlahan, dia mulai merasakan kekuatannya bersatu lagi, namun mencoba untuk berlagak selemah mungkin.
“Lalu apa yang akan kau lakukan ketika aku mati?” kata Nasus, memancing Xerath untuk terus memamerkan kekuasaannya. “Akan jadi seperti apa Shurima dengan kau sebagai rajanya?”

Nasus mencoba untuk mempertahankan rasa sakit itu agar terus ada di wajahnya sementara tubuhnya mencoba untuk memulihkan Damage yang diterima dari Xerath.

Sang magus ini menggelengkan kepalanya dan terbang semakin tinggi ke udara.

“Apakah kau pikir aku tidak bisa melihat tubuhmu yang mulai pulih perlahan?” katanya.
“Kalo begitu turunlah dan lawan aku!” tantang Nasus.
“Aku punya gambaran kematianmu ribuan tahun lalu,” kata Xerath, menurunkan sedikit keberadaannya. “Tapi tidak pernah di tanganku.”
Nasus melihat magus di atasnya ini bangkit mengisi kekuatannya sementara seluruh bangunan di sekitarnya perlahan mulai hancur, siap untuk ambruk ke tanah.

“Karena kau telah mengurungku di dalam tanah, sekarang aku akan menguburmu,” kata Xerath, mengeluarkan rantai putih ke arah dinding dan menghisap semuanya.

“The Butcher of the Sands akan segera hadir,” kata Xerath, tubuhnya bersinar lebih terang dari Sun Disc. Bebatuan dan juga debu pasir berkutat di satu tempat berusaha menarik kuil ini ke dalam tanah. “Dan aku akan menyaksikan sosoknya menghancurkan tulangmu.”

Bangunan yang tinggi menjulang itu pun akhirnya rubuh longsor menimpa ke arah Nasus ratusan ton beratnya. Tanpa ampun, Xerath melanjutkannya dengan menghujankan kekuatan besarnya dalam wujud komet api yang jatuh di sekitar Vekaura.

Permukaan tanah hancur dihantam oleh badai api. Kuil besar ini telah hancur, mengubur Nasus di bawahnya.

>
XII

Setelah kegelapan, ada secercah cahaya.
Cahaya yang menghangatkan.
Pada awalnya, dia tidak yakin apakah ini semua nyata atau hanya ditimbulkan oleh pikirannya sebelum kematian datang.
Apakah seperti ini rasanya the Ascended mati?
Setelah akhirnya dia sadar bahwa itu adalah cahaya matahari, dia merasa kehangatan datang menyelimuti kulitnya meski terkubur di dalam bebatuan ini. Dia merebahkan tangan dan kakinya, mencari kesempatan untuk memulihkan tubuhnya lagi. Ini artinya dia harus menunggu di dalam sini lagi. Tubuhnya sembuh dengan cepat, tapi dia tak tahu telah berapa lama dia tak sadarkan diri.

Berapa lama pun itu, sudah banyak waktu yang dia lewatkan.
Xerath telah bebas dan menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya.

Nasus mencoba untuk mencari jalannya keluar dari tumpukan bebatuan. Berjam-jam kemudian, setelah Nasus berhasil menyingkirkan banyak bebatuan, dia dapat melihat celah yang memperlihatkan bagaimana kuil besar tadi sekarang hanya tumpukan batu dalam fondasinya. Dia berjalan ke arah sana dan melihat apa yang tersisa dari Vekaura.

Kota ini telah hilang, atau setidaknya apa yang telah dibangun di sini sudah hancur. Kota ini telah menjadi kota yang terakhir kali Nasus lihat sebelum dia memutuskan untuk pergi. Dinding yang hancur, tihang-tihang yang berdiri seperti pohon yang gundul kehilangan semua daunnya, serta tanah yang hangus terhampar luar di sana. Angin pagi ini berhembus di antara reruntuhan ini. Tidak ada hidup, dan ini membawa sebuah beban kegagalan pada diri Nasus.

Dia pernah merasakan hal ini sebelumnya; ketika pertama kali dia terbangun setelah pertarungannya dengan Xerath dulu. Rasa bersalah ini membuatnya memalingkan wajahnya dari dunia ini, tapi kali ini dia tak ingin melakukannya lagi.

Xerath telah memberitahunya tentang Renekton yang berubah menjadi pemburu berdarah dingin, tapi Nasus mengenal adiknya lebih dari siapapun. Xerath hanya melihat sosok monster yang ada pada Renekton; tanpa memikirkan jiwa kstria yang tinggal di dalam hatinya. Seseorang yang menawarkan nyawanya sendiri untuk keselamatan kakaknya. Seorang prajurit yang berjuang mengorbankan apapun untuk tanah kelahirannya. Xerath telah melupakan semua hal itu, tapi Nasus takkan pernah lupa.

Jika Renekton masih hidup, maka sebagian dari dirinya pasti mengingat sisi ksatria miliknya. Jika Nasus bisa mencapai bagian itu dari adiknya, dia akan bisa menghilangkan kegilaan yang dideritanya. Nasus sudah lama percaya bahwa dia akan bertemu lagi dengan Renekton, tapi hingga hari ini, dia selalu membayangkan akan ada salah satu di antara mereka yang harus mati ketika hari itu datang.

Sekarang Nasus sudah tahu semuanya. Nasus punya tujuan baru. Sang keturunan Azir juga telah ditemukan, tapi dia belum bisa diandalkan.

“Aku membutuhkanmu, Renekton,” katanya. “Aku tidak bisa membunuhnya tanpamu.”

Di belakangnya, gurun pasir ini memanggil namanya.

Di belakangnya, gurun pasir ini mengambil kembali Vekaura.

THE END.

Explore More